Burung Terbang

Jadi, ceritanya malam ini saya belum bisa tidur. Susah untuk memejamkan mata. Lagi sedih dan akhirnya memutuskan untuk curhat disini. Biar lega dan bisa ikhlas.

Ma Fii Qalbi Ghairullah. Tiada siapapun di hatiku selain Allah. Memang benar harus fokus cinta dulu ke Allah baru cinta ke yang lain, apalagi kalau cintanya ke manusia. Kalau berharap ke manusia pasti bakalan kecewa, beda kalau berharapnya ke Allah. Yah, mungkin ini juga petunjuk dari Allah. Kalau Allah belum ridha, berarti memang belum jodoh. Sekarang yang paling penting mencari ridha Allah dulu. Allah lagi, Allah lagi dan Allah terus.

Yah, namanya manusia kalau merasa kehilangan sih manusiawi. Bolehlah sesekali saya menangis, tapi nggak boleh sedih berlarut-larut. Bersyukur karena kehadiran burung-burung itu pernah membawa kebahagiaan di hidup saya, meski kini mereka telah terbang. Saya harus ikhlas, harus kuat dan harus rela melepas.

Burung yang satu memutuskan mengepakkan sayap jauh-jauh januari kemarin. Akhirnya seseorang yang pernah jadi gebetan sepanjang masa saya dari kuliah menikah juga dengan perempuan yang diam-diam sudah lama dikaguminya. Bukan dengan mantannya yang juga teman kuliah saya, tapi dengan lainnya. Orang baru yang nggak saya kenal sama sekali. Perempuan cantik, juara wajah muslimah, sudah berhaji dan lulusan universitas al azhar. Cocok untuk jadi pendamping laki-laki ganteng, baik hati dan pengacara kondang seperti dia. Saya berdoa semoga rumah tangga mereka langgeng dan bahagia. Sakinah mawaddah wa rohmah.

Burung yang kedua, seseorang yang beberapa bulan ini dekat dengan saya. Bukan dekat yang bagaimana juga sih karena kami nggak sengaja dekat dan kami belum pernah bertatap muka langsung sebelumnya. Komunikasi kami hanya sebatas via whatsapp, telepon dan instagram. Saya pernah menceritakan tentangnya di postingan yang lalu. Saya juga heran kenapa saya bisa terkoneksi dengannya meski kami belum pernah bertemu. Apa karena diam-diam saya mengaguminya meski dia lebih muda, apa karena dia mirip mantan saya atau apa karena kami punya banyak kesamaan, entahlah. Kehadirannya di minpi saya beberapa hari ini mungkin pertanda kalau dia ingin pamit dan saya tidak boleh mengharapkannya lagi. Sosok teman kantornya yang sekarang menggantikannya untuk berkomunikasi dengan saya, ig story saya yang sekarang tidak pernah diliriknya dan status whatsappnya beberapa jam lalu akhirnya menjawab semua pertanyaan di kepala saya. Yah akhirnya dia punya pacar baru dan sepertinya ini serius, mengingat dia pernah berkata kepada saya ingin ganti status. Doa saya semoga dia bahagia dengan pacar barunya dan hubungan mereka berlanjut ke pelaminan.

Tak terasa tinggal hitungan hari lagi kita sudah memasuki bulan ramadhan. Saya menangis mengingat apa persiapan saya menyambut bulan suci ini. Sudahkah saya mempersiapkan dengan baik menyambut ramadhan ini? Shalat saya, ngaji saya, hati saya semua sepertinya harus saya perbaiki. Bukan malah memikirkan burung-burung yang terbang tadi. Saatnya saya kembali dekat dengan Allah agar bisa fokus beribadah di bulan ramadhan nanti.

Iklan

31

Hari ini tepat hari ulang tahun saya yang ke 31. Many people said, “life begins at 30”. Gimana rasanya melewati usia kepala tiga, van? Umm, rasanya nano-nano apalagi di usia segini, saya melewatinya dengan status lajang alias belum menikah.

Kenapa belum menikah, van? Pasti terlalu pilih-pilih ya? Nanti kalau makin tua makin susah loh punya anaknya. Lihat tuh adek-adek kamu udah menikah sama udah punya anak semua. Sepupu-sepupu juga banyak yang udah menikah. Orang tua dan mbah juga makin lama makin tua. Nanti nelangsa loh kalau menikah tapi nggak didampingi sama mereka.

Berulang kali saya mendengar pertanyaan semacam itu. Pilih-pilih? Saya yang malah akhirnya nggak terpilih. Meski mereka bilang sayang dan bilang cinta, tapi karena satu dan lain hal akhirnya mereka meninggalkan saya dan memilih menikah dengan yang lainnya. Dilangkahi adek? Mungkin belum waktunya buat saya dan bukan rezeki saya menikah cepat. Masalah orang tua? Sampai sekarang saya masih bingung cowok seperti apa yang akhirnya dapat restu dari orang tua untuk menikahi saya.

Sedih? Pasti. Bohong kalau bilang saya nggak sedih. Nangis? Jangan ditanya seberapa sering saya nangis. Berharap? Saking seringnya berharap sampai udah mati rasa dan sekarang nggak mau berharap lagi. Ikhlas dan pasrah? Masih tahap belajar sampai sekarang. Galau? Udah mulai berkurang, apalagi sekarang sering mencoba datang ke kajian-kajian untuk menghilangkan kegalauan. Trauma? Ini yang sekarang dicoba untuk dihilangkan. Mengingat dua cowok terakhir yang dekat dengan saya jangan ditanya lagi gimana brengseknya. Satunya akrab dengan pijat plusplus dan dugem, satunya lagi playboy kelas kakap yang jam terbangnya lumayan tinggi.

Teman saya bilang jangan kapok untuk jatuh cinta lagi. Jangan menyerah meski berkali-kali patah hati. Percaya saja kalau Tuhan itu adil. Percayalah kalau Allah selalu mengabulkan doa hambanya yang tulus meminta. Saya hanya perlu untuk lebih memperbaiki diri karena sesungguhnya jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Intinya jodoh selalu datang pada waktu yang tepat, bukan masalah cepat atau lambat.

Terima kasih buat doa-doanya semua ya teman-teman di hari ulang tahun saya ke 31 ini. Terima kasih buat ucapan dan perhatian dari teman-teman semua. Semoga di ulang tahun yang ke 31 ini saya layak untuk mendapat jodoh yang terbaik dari Allah. 2019 ganti status. Aamiiin.

Sepotong Kenangan

Namanya Ardian. Bagiku dia hanya salah satu dari pelanggan kantorku. Setahun yang lalu, tiba-tiba dia menjadi bagian dari hari-hariku yang sibuk sebagai staf keuangan. Kami berkenalan pertama kali di telepon, ketika dia bertanya tentang cara pembayaran di aplikasi sistem penerimaan informasi pnbp online (simponi) untuk pengujian air limbah dari kantornya ke kantorku.

Sejak saat itu kami sering berkomunikasi melalui whatsapp messenger. Komunikasi kami berlangsung formal sebatas urusan pekerjaan kantor. Sampai bulan januari lalu ketika aku pamit padanya untuk tidak menghubungiku lagi karena aku pindah divisi, percakapan kami mulai berubah sedikit kasual.

“Pindah ke bagian mana, bu novi?”tanyanya. “Saya pindah dari bagian keuangan ke bagian kepegawaian, pak. “Maaf sebelumnya bu novi ini sudah berkeluarga kah?”tanyanya lagi membuatku terkejut. “Belum, pak.”jawabku singkat. “Berarti saya panggil mbak aja ya, saya juga belum bapak kok, mbak. “Oh iya boleh, pak. “Sudah lama di baristand, mbak?. “Sudah 5 tahun, pak. “Dulu alumni mana, mbak novi? “Unair, pak. Kalau pak ardian alumni mana? “Saya ITS, mbak. Berarti lulus tahun 2012 ya, mbak? “Bukan, pak. Saya lulus sebelumnya.”

Rasanya sedikit aneh dengan percakapan kami saat itu. Yah, meski tidak sedikit pelanggan kantorku yang kadang-kadang menggodaku, tapi tidak ada yang seberani dia yang bertanya langsung masalah pribadiku, apalagi sebelumnya kami belum pernah bertemu.

Selama 3 bulan dia berhenti menghubungiku. Bulan mei, kami kembali berkomunikasi setelah dia bertanya tentang laporan hasil uji dan pengiriman sampel yang diuji di kantorku. Jujur, aku sedikit kesal karena aku sudah bilang padanya kalau aku pindah divisi, tapi dia masih sering menghubungiku. Bagaimanapun aku harus bersikap baik padanya karena dia pelanggan tetap kantorku. Komunikasi kami masih terjalin singkat seperti dulu. Yah, sesekali dia pernah mengirimiku ucapan selamat lebaran walaupun terselip pertanyaan tentang urusan kantor.

Hubungan kami berubah sampai suatu saat dia mengomentari statusku di whatsapp story. Aku memasang status mengenai liburanku di lombok yang terkendala gempa bumi. Malam hari aku harus tidur di luar rumah akibat gempa yang terjadi. Kebetulan, dia juga merasakan hal yang sama karena gempa juga terjadi di sumbawa, tempat tinggalnya saat itu.

Komunikasi intens pun mulai terjalin di antara kami. Entah kenapa aku merasa nyaman ngobrol dengannya. Teks yang kukirimkan padanya di whatsapp yang biasanya singkat berubah menjadi panjang. Banyak hal yang kami obrolkan dan topiknya berganti-ganti. Kami punya banyak kesamaan, sama-sama suka travelling dan sepak bola. Kami juga saling bertukar informasi tentang musik favorit, destinasi liburan impian, makanan favorit dan cerita seputar keluarga masing-masing.

Meski segalanya terasa menyenangkan, namun tetap ada hambatan di hubungan kami. Umurnya yang terpaut lebih muda 7 tahun dariku. Aku kelahiran 87, dia kelahiran 94. Saat dia baru lahir, aku sudah sekolah. Sudah bisa membaca dan menulis. Aku sudah lama bekerja, sementara pengalaman kerjanya baru 3 tahun di kantornya sekarang.

Seorang teman bilang ardian pasti menyukaiku. Dia yakin hubunganku dengan ardian bukan hubungan seperti kakak adik, meski kami berdua belum pernah bertemu. Aku geleng-geleng kepala. Ardian menyukaiku? Mana mungkin. Kalau dia mau, dia bisa memilih gadis yang seumuran dengannya dan lebih cantik dariku.

Aku memejamkan mataku. Teringat percakapanku dengannya beberapa waktu lalu. Dia bercerita tentang kisah cintanya di masa lalu, ketika dia melamar seorang gadis namun batal menikah. Gadis yang dipacarinya 5 tahun itu mengkhianatinya dan ardian memilih mundur saat hubungan mereka tinggal maju selangkah.

“Tahun depan aku pengen menikah, mbak.”katanya penuh optimis. “Sudah ada calonnya?”tanyaku. “Belum, mbak. Ini lagi cari. Sekarang belum kelihatan hilalnya. “Ada kriteria khusus buat calonnya, pak?”tanyaku penasaran. “Nggak ada, mbak. Yang penting kami sama-sama nyaman”.

Oh ya, aku belum cerita kalau aku masih memanggilnya ‘pak’ meski dia pernah memintaku untuk memanggilnya ‘dek’ atau ‘ardi’ saja, nama panggilannya. Aneh rasanya memangilnya seperti itu karena kami belum pernah bertatap muka langsung.

Suatu kali saat kami mengobrol tentang bola, spontan dia berkata kalau dia ingin punya istri yang paham bola, mengerti hobinya yang suka bermain futsal dan fans arsenal. Aku hanya tertawa dan mengamini ucapannya meskipun aku tahu kalau aku masuk kriteria perempuan idamannya. Lain waktu saat kami bertukar impian tentang destinasi liburan impian, dia menandaiku di kolom komentar salah satu postingan trip murah india di instagram. “Ayo mbak, kita kesini! Setelah itu kita ke london, terus ke manchester. Nonton manchester united vs arsenal”katanya setelah tahu aku fans klub bola MU.

Ah, ardian! Mengingatnya selalu bisa membuatku tertawa. Mengobrol dengannya terasa menyenangkan dan tidak pernah membuatku bosan. Meski dia berusia lebih muda dariku, tapi aku tidak pernah menganggapnya seperti anak kecil saat kami bertukar cerita.

Teman-teman bilang aku terlalu banyak berpikir. Pacaran saja dengannya, kata mereka. Dia anaknya alim dan baik. Sederhana dan tidak neko-neko. Tidak seperti mantan-mantanku yang lain yang akrab dengan dunia malam, playboy dan tukang selingkuh. Tidak juga seperti cowok tengil, seorang sales sebuah merek mobil yang mendekatiku beberapa bulan lalu. Ardian berbeda dan tidak seperti mereka.

Dari luar, kami juga terlihat serasi. Penampilanku yang kelihatan lebih muda dari umurku yang sebenarnya memang sering mengecoh orang. Kami sama-sama suka berpetualang dan easy going. Tapi, aku tetap saja lebih tua. Aku takut menarik ardian akan membuatnya menderita, terutama ke dalam kisah cintaku yang rumit bak kisah sinetron di televisi swasta. Aku tidak mau menarik ardian ke hidupku yang serius. Jangan. Tidak boleh. Itu tidak adil untuknya.

Padahal, aku juga menyukai ardian. Mulai jatuh cinta padanya. Sedikit. Pada gayanya yang lucu. Pada candaannya di status whatsappku.Pada kata-kata bijaknya yang sering menenangkanku. Pada kepolosan dan kejujurannya. Ya, aku tahu kalau dia jujur dan apa adanya.

Aku mungkin terlalu banyak berpikir. Aku sering berkhayal seandainya ada keajaiban bahwa ketika bangun besok pagi, tiba-tiba kami sebaya. Kami tetap berteman, tapi pelan-pelan aku memutuskan untuk menjauh. Menghindari bertatap muka dengannya langsung kalau nanti dia jadi main ke kotaku untuk menghadiri wisuda adiknya. Hubungan kami biarlah tetap seperti dulu, sebatas hubungan antara stakeholder dan customer. Kuharap lama-lama dia akan mengerti kalau aku melepasnya pergi dalam hati.

Sakitkah rasanya? Ya, sedikit. Sakit tapi tak berdarah. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga yang menjadi pegangan. Aku tidak menyesal kok. Jalan ardian kan masih panjang dan aku tidak ingin menghambatnya.

Itulah sepotong kenanganku bersama ardian. Manis ya? Tapi tetap saja menyedihkan.

Sweet Reminder

A sweet reminder for such a clingy person like me. That to sacrifice, to lose, to let go isn’t something that we can easily do when we are too attached to some people, stuffs and situation.

Thinking about how hard days without the people we love, the gadget that is never slipped from our hand, the comfort zone we enjoy and everything we always take for granted.

Ikhlas is indeed the most difficult feeling to acquire. Happy eid mubarak, everyone! May we are blessed with sincere and grateful heart.

Ekspektasi


Ada sebagian orang yang sangat ingin menikah akhirnya malah terbentur kesulitan besar karena beratnya tekanan ekspektasi yang terlalu sempurna dari orangtua mereka.

Niat menikah untuk beribadah padaNya berubah menjadi transaksi kemapanan finansial demi terwujudnya harapan-harapan mewah duniawi para orangtua yang sifatnya semu.

Sad story, persis cerita yang saya alami sekarang ini 😭.

#patahhati #pernikahan #ekspektasi #luka #duniawi #ceritasedih

(Repost from satriautama.tumblr.com)

Patah Hati (lagi)

tips-mengatasi-patah-hati

Hmmmfffhhh. Saya menarik nafas panjang. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sekarang kita sudah memasuki tahun 2017. Selamat tahun baru ya, teman-teman. Maaf, saya lama tidak menulis disini. Bicara tentang resolusi, resolusi saya masih sama seperti tahun kemarin.  Saya ingin bisa menikah di tahun ini. Aamiin.

Oke, kembali ke judul postingan ini. Saya mau cerita tentang kesedihan saya beberapa waktu ini. Yah, saya patah hati lagi. Saking seringnya patah hati belakangan ini, saya susah untuk menangis. Sedih? Pastinya. Bohong kalau saya bilang saya tidak sedih. Sakit? Iya sedikit, tapi tidak sesakit kehilangan kemarin yang saya ceritakan disini .

Lalu, bagaimana ceritanya? Jadi, sebulan yang lalu tepatnya awal desember saya berkenalan dengan seorang pria. Umur 2 tahun lebih muda, tinggal di surabaya, mualaf (setahun sebelum bertemu saya), bekerja di bumn perkebunan (bisa menebak sendiri kan?), penempatan mojokerto dan punya jabatan (dengan fasilitas rumah dinas dan mobil dinas). Oke, menurut saya pria ini sudah cukup memenuhi kriteria orang tua saya. Pria jawa, seagama, berpendidikan minimal sarjana, pns/ peg bumn dengan penghasilan tetap dan tempat kerja di jawa timur. Kamis malam kami berkenalan dan sabtu malam kami bertemu. Cukup cepat ya? Pertama kali kami bertemu di rumah saya dan itu sepengetahuan orang tua saya. Setelah ngobrol sebentar dengan kedua orang tua saya, akhirnya kami pamit keluar. Pertama kali keluar itu saya diajak bertemu dengan wanita, teman baiknya di kantor yang datang bersama pacarnya. Double date gitu istilahnya.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Komunikasi lancar dan bertemu kedua kali dia rela pulang kantor menyetir dari mojokerto datang ke acara keluarga saya, sehingga orang tua saya mulai memberi lampu hijau dan dia juga bercerita tentang saya ke orang tuanya.

Tiba-tiba datanglah badai itu. Beberapa kali dia tidak bisa datang ke rumah karena sakit dan dinas keluar kota, lalu dia terkena musibah kehilangan dompet. Sementara mama saya mulai mempermasalahkan ketidakhadirannya di malam minggu dan masalah mualafnya. Orang tua saya ingin minta bukti mualafnya karena saat main ke rumah tidak pernah lihat dia shalat secara langsung.

Mama saya juga meminta kepastian keseriusannya setiap hari kepada saya dengan bertanya, “Apa dia serius dengan saya? Kapan kalian menikah? Kenapa malam minggu ini dia tidak datang ke rumah? Apa mungkin ada wanita lain yang dekat dengannya?”.  Dan sebagainya.

Saya lelah. Saya tertekan. Tiap hari dimborbardir dengan pertanyaan yang sama terus-menerus. Saya sudah menjelaskan, tapi mama saya tetap tidak bisa menerima. Semua rasanya selalu salah.

Malam minggu tidak datang? Yah siapa tau dia ada acara keluarga, dinas keluar kota atau tidak punya uang karena dompetnya baru saja hilang. Toh, kalau dia pergi selalu mengirimkan foto atau share location. Bukti mualaf? Saya sendiri yang islam sejak lahir kalau diragukan keislaman saya juga tidak suka. Masalah agama dan keyakinan itu hal yang sensitif. Serius dan kapan menikah? Untuk hal ini saya tidak bisa jawab karena kami hanya bertemu beberapa kali dan baru sebulan berkenalan. Yah, bisa jadi dari kata-kata dan sikapnya selama ini, but who knows? Masalah wanita lain? Mungkin saat itu tidak ada karena kalau keluar dia selalu menitipkan ponselnya pada saya dan sejauh yang saya lihat tidak ada yang aneh-aneh waktu saya buka.

Jadi hal- hal tidak penting semacam itu dan kepastian untuk  menikah yang hampir setiap hari dipermasalahkan mama saya, membuat saya tidak bisa mengendalikan emosi. Akhirnya saya pun bercerita tentang tekanan mama saya untuk menikah kepadanya dan pengalaman masa lalu saya. Jujur, saya trauma dengan kegagalan kemarin. Orang tua saya bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain. Kalau pria ini diminta bukti mualafnya dan mungkin tabungan untuk menikah, sedangkan pria yang dulu diminta slip gaji, tabungan, dan lain -lain saat akan melamar. Saya menyiapkan diri kalau ternyata dia mundur setelah mengetahui sikap orang tua saya.

“Aku siap menikah, tapi aku belum punya apa-apa. Dari awal aku sudah memberitahumu kalau tabunganku rumah dan mobil habis buat biaya berobat ayahku. Selain itu aku masih ada tanggungan biaya sekolah adekku yang masih sma. “Uangku barusan hilang. Aku nggak punya uang buat tahun baru. “Sakit aja dikomen. Aku beneran nggak bisa datang waktu itu. “Berapa standar gaji yang diminta ortumu? Kalau gajiku belum sampai di atas 10 juta.  “Apa kita kawin lari aja kalau ortumu nggak setuju sama aku? “Apa kamu bahagia denganku? Aku takut nggak bisa membahagiakan kamu kalau kita menikah nanti karena aku harus bisa memberimu sama seperti yang diberikan ortumu. “Orang tuamu nggak percaya dengan mualafku? Insya allah aku shalat di masjid bareng papamu kalau ke rumahmu. “Sekarang dijalani dulu ya, siapa tahu kita berjodoh.”

Itulah beberapa kata-katanya yang masih saya ingat dan membuat saya menangis. Saya mengakui kalau saya salah dan tidak akan membela diri. Hal-hal sepele yang saya katakan karena pengaruh mama saya, justru malah membebaninya. Hubungan kami malah memburuk setelah itu, ditambah sepertinya dia juga sedang ada masalah di kantor. Komukasi kami tetap ada tapi tidak selancar dulu, bahkan hampir terputus. Bertemu pun sudah tidak pernah. Intinya, dia mulai menghindar dan menjauh.  Yah, anggap saja dia mundur perlahan.

Seminggu ini saya menyesal, membuang ego dan berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tetap tidak berhasil dan yang ada malah kami bertengkar karena salah paham. Apalagi dia juga tidak terbuka mengenai masalahnya di kantor. Kadang-kadang line dan whatsapp saya diacuhkan dan bahkan yang terakhir pun belum dibalas.

Mungkin kami memang tidak berjodoh dan lebih cocok untuk berteman. Mungkin saya bukan lagi prioritasnya sehingga kami tidak bisa bertemu dan dia lama membalas pesan saya. Mungkin saya terlalu terbawa perasaan dan harus lebih belajar mengendalikan emosi. Mungkin saya belum dewasa dalam menjalin hubungan dan perlu lebih belajar untuk memahami karakter pria. Mungkin saya terlalu jujur dan tanpa sengaja kata-kata saya telah melukainya. Mungkin saya masih trauma dengan pria masa lalu dan belum merasa nyaman saat bersamanya.  Mungkin lain kali kalau perasaan saya masih belum mantap, lebih baik pria yang dekat tidak dikenalkan kepada orang tua saya karena akan runyam jadinya. Mungkin saya tidak perlu cerita tentang pengalaman masa lalu karena beda pria beda pula kasusnya. Baiklah, saya menyerah sampai disini karena saya memutuskan berhenti dengan segala kemungkinan yang ada. Case closed.

 

Note :  Terima kasih untukmu. Kamu adalah kesalahan yang entah bagaimana ceritanya, tak pernah kuanggap salah di hidupku.

Jodoh dan Menikah

Umm, saya nggak lagi galau kok karena sekarang menurut saya cinta itu overrated. Mungkin saking seringnya jatuh cinta dan patah hati, jadi saya merasa seperti ini. Hehehe. Cinta yang hakiki seharusnya cinta kepada makhluk ciptaannya tidak melebihi cinta kepada penciptanya.  

Saya nggak anti menikah kok tapi mungkin rada skeptis. Menikah itu perlu untuk meneruskan generasi dan mungkin menyalurkan hasrat biologis. Tapi, partner nikahnya alias teman hidup ini yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Hehehe. Yah, mungkin benar kata teman saya kalau saya belum mendapatkan jodoh yang terbaik yang diridhoi oleh Allah dan direstui kedua orang tua saya. 

Sampai sekarang pun saya hanya bisa berusaha dan berdoa. Pasrah dan ikhlas dengan kehendak Tuhan siapa jodoh saya nantinya. Dengan siapapun nanti saya menikah pasti menurut Allah itulah jodoh yang terbaik. Dengan mas A, mas S, mas I atau mungkin mas yang lain. Dengan orang lama maupun orang baru, siapapun itu akan saya terima dengan ikhlas. Saya percaya kalau Tuhan akan bekerja dengan caraNya sendiri dalam mendekatkan dan menjauhkan orang-orang yang pernah hadir di kehidupan kita.  

Idealnya, memang menikah terdiri dari dua orang yang saling mencintai. Seperti kata Sandra Dewi di hari pernikahannya yang membuat saya terharu,  “akhirnya saya bisa menikah dengan laki-laki yang saya cintai”. Tapi, realitanya di masyarakat berapa banyak dari kita yang bisa menikah dengan orang yang kita cintai? Nasib bisa diperjuangkan tetapi kadang takdir tidak bisa kita tolak, termasuk takdir cinta. Saling mencintai, tapi nasib berkata lain sehingga berpisah dan menikah dengan pasangan masing- masing. Kalau bukan jodoh yang digariskan oleh yang di atas, maka sekuat apapun kita mencinta pasti akhirnya terpisah. 

Jujur, saya berharap saya bisa menikah dengan laki-laki yang saya cintai dan tulus mencintai saya. Tapi kalau nasib berkata lain, yah mau bagaimana lagi. Mau tidak mau dan suka tidak suka itulah jodoh yang digariskan oleh Tuhan pada saya dengan memperhatikan restu orang tua saya. Hmm, saya jadi teringat dengan kata-kata di novel yang dulu pernah saya baca dan sampai sekarang masih menjadi salah satu novel favorit saya.